Langsung ke konten utama

Postingan

Orang Tua Sekarang Membunuh Anaknya Secara Halus

Ada seorang operations manager dari client kantor saya – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,
“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”
“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.
“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. But this, blew my mind.


Dan setelah saya menjadi orang tua, di sini lah saya lihat banyak orang tua mulai mengambil langkah yang tidak disadari, berdampak.

“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”

“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend to give the best.

The question is, is the best…is what our children need? Really?

Orang sukses…
Postingan terbaru

Bercanda Kita

Ada hal-hal yang boleh dibercandakan, ada juga hal-hal yang tidak baik untuk dibercandakan. Benar adanya bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik, termasuk dalam hal bercanda. Ketika seseorang yang kita kenal nampak selalu easy going dalam perkara obrolan atau bercandaan apapun bukan berarti dia akan selalu baik-baik saja dengan kalimat-kalimat bercanda yang kita lontarkan. Bagaimanapun setiap manusia adalah manusia, memiliki hati. Akan ada masa dimana hatinya bisa saja terluka dengan kalimat-kalimat bercanda kita. Bisa membuatnya jadi patah semangat, menjadi lebih tidak percaya diri, dan hal-hal negatif lainnya dikarenakan kalimat yang keluar dari lisan kita, who knows? pun itu hanya berniat bercanda. Bercanda yang berkaitan dengan kekurangan fisik seseorang terutama, akan lebih baik jika dihindari. Orang-orang yang tipe “tidak enakan” mungkin akan bersikap seolah-olah easy going saja. Padahal bisa jadi hatinya terluka, hanya saja dia menyimpan untuk dirinya sendiri. Siapa yang t…

Orang orang tanpa panggung

oleh mas @Saptuari
*** Saya tidak akan menyebut nama, biar jadi misteri sadja..
Yang pertama anak muda yang bisnisnya luar biasa, punya facebook tapi statusnya biasa tak ada yang istimewa. Kalau dari satu bisnisnya dengan ratusan karyawan dan ribuan reseller itu omzet minimal 5 milyar/bulan saja bisa dikantongi. Belum dari bisnis-bisnis lainnya..
Kalau berkumpul dia lebih banyak diam, menjadi pendengar yang baik omongan dari yang hadir, jika dikasih kesempatan ngomong dan waktu yang tepat, dia bisa bicara dengan runtut penuh ilmu. Cara pakai bajunya pun sederhana, tidak akan ada yang menyangka dia berlimpah uangnya..
Dia tidak punya rekening bank, semua bisnisnya pakai rekening karyawan yang dia percaya, namun kendali uang tetap di tangannya. Dia bukan tipe yang suka pamer mutasi rekening hanya untuk sekedar menunjukkan bahwa dia suksessss dan banyak uang.
Dia tidak punya utang bank, tapi tiap akhir tahun lebih suka meludeskan isi rekening-rekening usahanya untuk disedekahkan. Keti…

Transaksi Aneh Jual-Beli Abu Hanifah dengan Seorang Perempuan

cerita ini kami dapatkan dari sebuah broadcast di Whatsapp,
Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah suatu hari kedatangan seorang perempuan yang membawa pakaian sutra di tangannya. Perempuan ini berniat menjual kain mewah tersebut kepadanya.
"Berapa harganya," tanya Imam Abu Hanifah.
"Seratus dirham."
"Tidak. Nilai barang ini lebih dari seratus dirham."
Keruan saja si perempuan heran. Lazimnya pembeli selalu menawar barang dagangan dengan harga lebih murah. Tapi yang dilakukan ulama besar itu aneh.
Perempuan itu pun melipatgandaan harganya menjadi empat ratus dirham.
"Bagaimana bila barang itu lebih mahal lagi?"
"Anda bercanda?" Tanya perempuan tersebut tercengang.
"Datangkanlah seseorang untuk menaksir harganya!"
Ya. Perempuan itu akhirnya menghadirkan seorang laki-laki. Kata si laki-laki, "Pakaian sutra ini seharga lima ratus dirham."
Imam Abu Hanifah lantas m…

Cinta Seperti Apa Ini?

kisah inspirasi ini kami ambilkan dari sebuah postingan seorang teman di facebook, credit kepada penulis aslinya. Kisah yang menakjubkan, yang diceritakan oleh seorang konsultan. Berikut ceritanya.

Kaos Kaki Bolong

Seorang ayah yg terkenal dan kaya raya  sedang sakit parah. 
Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2nya.
Beliau berwasiat:
"Anak-anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kepada kalian"
" Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dikenakan bila Ayah dikubur nanti."
Akhirnya sang ayah wafat. 
Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke ustadz agar almarhum diperkenankan memakai kaos kaki yang bolong itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi sang ustadz menolaknya.
" Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dikenakan kepada mayat."
Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak ustadz yang melarangnya
Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat…

Kisah Inspiratif : Rumah Si Tukang Bangunan

Alkisah Seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya
bekerja ikut pemborong.
.
Iapun bermaksud mengajukan pensiun
karena ingin memiliki banyak waktu
untuk keluarganya.
.
Si Pemborong berkata,
"Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu
satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.
.
Si tukang bangunan segera membangunnya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi.
.
Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat..
Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong.
.
Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata,
"Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
.
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal kenapa rumah, yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan..
.
Saudaraku..
Ibadah yang kita kerjakan
di dunia ini, tak lain adalah 'rumah' yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia.
.
Jangan sampai kelak kita menyesa…