Langsung ke konten utama

Doa Ingin Umroh Tiap Bulan dan Haji Tiap Tahun

Kisah berikut kami ambilkan Dari status mas Rijalul Imam. Semoga menginspirasi. :)

Orangnya sdh tua tapi semangat ibadah dan membantu orang lain luar biasa. Saya bersyukur bisa ditemani dia saat di Madinah dan Makkah. Pengalamannya juga unik: umroh hampir tiap bulan dan haji tiap tahun..padahal penghasilannya biasa-biasa saja.

Saya tanya, apa rahasianya bapak bisa umroh hampir tiap bulan dan haji tiap tahun? Padahal di Indonesia mau haji saja ngantri sampai 10 tahun.

Dia bilang, saya mengikut orang yg doanya sederhana tapi karena dari lubuk hati yang dalam diijabah terus. Dia berdoa di depan Multazam dan Raudhah. Tempat yg mustajab. Apa doanya pa?

"Gusti.. (bahasa daerah: Tuhanku), saya ini sudah tua. 
Bersyukur bisa ke sini karena nabung recehan dari hasil keringat sendiri. 
Gusti, jangan Kau pisahkan saya dari Raudhah ini. 
Kalau Engkau pisahkan saya dari tempat Rasulullah ini, balikkan lagi saya ke sini..
bisa tiap bulan, tiap dua bulan atau tiap tiga bulan umroh atau tiap tahun haji.
Tapi pakai ongkos-Mu,
jangan pakai uang saya.
Saya ga punya apa-apa.
Hampura Gusti.."


Lalu dgn Cara-Nya dia diberangkatkan rutin ke Haramain. Subhanallah. Yuk jangan putus berdoa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibuku Seorang Penjual Gudeg

Namanya mbah Pon......
Penjual gudeg dipojokan pasar Beringharjo Jogja.

Mempunyai 5 anak yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI, mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa.

Siang itu mbah Pon duduk didepan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon.



Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada jawaban dari mbah Pon yang bisa memuaskan peserta. Misalkan, ketika ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, "nggih biasa mawon, nek nakal nggih dikandani"

Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon.. "Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar"

Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, karena tidak ada jawaban yang spesial dari mbah Pon.

Hingga seorang peserta bertanya, " mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah?"

Dengan wajah bingung mbah Pon balik bertanya, " masalah niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi?"

Peserta itu mencontohkan "Niku …

Kaos Kaki Bolong

Seorang ayah yg terkenal dan kaya raya  sedang sakit parah. 
Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2nya.
Beliau berwasiat:
"Anak-anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kepada kalian"
" Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dikenakan bila Ayah dikubur nanti."
Akhirnya sang ayah wafat. 
Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke ustadz agar almarhum diperkenankan memakai kaos kaki yang bolong itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi sang ustadz menolaknya.
" Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dikenakan kepada mayat."
Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak ustadz yang melarangnya
Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat…

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Oleh Salim A. Fillah   
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
    memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
    memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
    kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al …