Langsung ke konten utama

Menjaga Martabat

oleh Bayu Gawtama

Bukan kebetulan, semua pasti sudah ada yang mengatur, tumben-tumbenan saya beli pulsa di konter hape pinggir jalan.

gambar ilustrasi, pixabay
Sementara masih menunggu pulsa terisi, mata ini tertarik pada sesosok bapak paruh baya yang sedang melihat-lihat hape seken. Beberapa kali ia bertanya ke penjaga konter perihal harga beberapa hape yang ditunjuknya, namun beberapa kali pula dahinya mengernyit.

Akhirnya saya beranikan diri bertanya, "mau beli hape pak?" Ia mengangguk, lalu tangannya kembali menunjuk satu hape lagi. Lagi-lagi ia murung, karena harganya terlalu mahal baginya.

"Hape nya buat bapak pakai sendiri?" tanya saya lagi. Ia hanya menggeleng. Kemudian hendak berlalu pergi. Langkahnya gontai, lalu saya tahan. "Buat siapa pak?"

"Saya sudah lama ingin memenuhi janji. Waktu ulang tahun anak saya yang SMA tahun lalu, saya janji akan belikan hape kalau ia berprestasi, nilai raportnya bagus..."

Lalu...

Intinya, janjinya sudah lewat satu tahun. Si anak sebenarnya nggak pernah menagih karena ia sadar keadaan bapaknya. Begitu yang saya tangkap dari ceritanya.

Tapi seorang Ayah pantang ingkar janji. Ia berusaha untuk membayar janjinya, meski harus tertunda sekian waktu. Dan hari ini, ternyata hari ulang tahun anaknya itu, ia berencana menunaikan janjinya sekaligus memberi kejutan. Tapi apa boleh buat, ia berencana menunda kembali janjinya. Sampai datang waktunya nanti.

"Memang Bapak pegang uang berapa?" tanya saya.

"Dua ratus lima puluh ribu..." sambil menunjukkan uang yang digulung dan diikat karet gelang. Hanya ada pecahan ribuan dan dua ribuan. Entah berapa lama ia mengumpulkannya.

"Boleh saya bantu?" sambil beri senyum terbaik.

Tapi ia menolak. "Saya harus membeli dengan yang saya sendiri," katanya.

Saya melirik hape yang tadi ditunjuk dan bertanya pelan ke penjaga perihal harganya.

"Oh bukan gitu pak, saya hanya akan bantu menawar harganya, biar bapak tetap bisa beli dengan uang itu," saya nggak mau kalah. Dan ia pun setuju. Tanpa ia ketahui kesepakatan antara saya dan penjual hape itu.

Akhirnya, Bapak itu tersenyum karena ia bisa membawa pulang janjinya. Boleh jadi itu hanya satu janji dari sekian banyak janji yang belum mampu ia penuhi. Entah kenapa tiba-tiba ia memegang tangan dan pundak saya lalu ia memijat-mijatnya. "Terima kasih anak muda, sudah bantu walau cuma bantu menawar harga hape itu, biar saya pijat sebentar untuk membalas kebaikan anak muda".

Takjub saya dengan Bapak ini. Ia menjaga martabat dirinya, bahkan ia mencoba membayar kebaikan saya dengan memijat pundak dan tangan ini.

Hari ini saya belajar lagi. Seorang Ayah bukan hanya pantang mengingkari janji, tetapi juga tetap harus menjaga martabat diri dan keluarganya.

kisah dari @bayugawtama

*gambar hanya ilustrasi, sumber : pixabay

Komentar

  1. Telah Hadir Situs Judi Kartu Online Yang Menjadikan Hobi Anda Sebagai REJEKI, Yang Memberikan Pelayanan Cepat & Ramah Yang Akan Membuat Anda Semua Nyaman
    Hanya Dengan 1 User ID Anda Dapat Bermain 6 Game Di Sini
    Game Yang Kami Berikan :
    -Poker
    -Domino
    -Bandar Poker
    -BandarQ
    -AduQ
    -Capsa susun
    Semua Menjadi 1 ID Di Sini
    Dan Semua REAL GAMES AND REAL MONEY
    Dengan Minimal Deposit RP 20.000,- Anda Sudah Dapat Bermain Di Sini
    Permainan 100% Fair Play Tanpa Robot, Player vs Player
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Andropid/ Iphone / Ipad
    Play For Win Guys, Fairplay!!!
    BONUS ROLINGAN TERISTIMEWA (SUPER BONUS) yang akan kami berikan anda dapat merasakan nya sendiri.
    BONUS REFERAL 15%
    Untuk info selengkapnya silahkan hubungi kami di pelayanan terbaik :
    -Skype : Hobiqq
    -BB : 7770C8B4
    -Facebook : Hobi QQ
    -No HP : +855 964 638 259
    -Yahoo : hobiqq@yahoo.com
    ---===:::HOBIQQ:::==

    BalasHapus
  2. mantap semoga semakin banyak cerita inspiratif

    BalasHapus
  3. kisah yang inspiratif

    http://kuliahumum.mywapblog.com

    BalasHapus
  4. kisah yang inspiratif

    http://kuliahumum.mywapblog.com

    BalasHapus
  5. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great blog.
    taruhan judi poker online terpercaya

    BalasHapus
  6. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great blog.
    judi poker online terbesar

    BalasHapus
  7. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great blog.
    agen poker online indonesia

    BalasHapus
  8. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Good job, I like this blog.
    http://www.mgmdomino.com/

    BalasHapus
  9. Bersyukur bisa menemukan blog ini...

    Terimakasih, terimakasih, terimakasih atas artikel yang menggugah ini.

    Salam,
    www.yogaabe.com

    BalasHapus
  10. saya mengagumi sifat anda yang mau membantu ..... kebohongan yang di halalkan oleh allh

    BalasHapus
  11. aku kangen ayahku yang sudah berpulang ...

    BalasHapus
  12. Artikelnya menginspirasi sekali. Terimakasih

    BalasHapus
  13. D A D U P O K E R

    Situs Judi Online BANDARQ 8 Games 1 ID
    Minimal Deposit 20 ribu ^^
    Jackpot Jutaan Rupiah SETIAP HARI !!!
    Hadirkan New games dengan Sistem Baru " BANDAR66 "

    HOT Promo Dadupoker Februari 2019 :
    (*) Bonus Referral 20%
    (*) Bonus Turn Over Hingga 0,5%
    (*) Jackpot Jutaan Rupiah ( Setiap Hari )
    (*) 1.000% NO Robot dan No Admin !!!

    Link Resmi : www.dadupoker66.org

    Info Selengkapnya Hubungi kami :
    BBM : 2be2b4b7
    WA : +6281291417675

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaos Kaki Bolong

Seorang ayah yg terkenal dan kaya raya  sedang sakit parah. 
Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2nya.
Beliau berwasiat:
"Anak-anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kepada kalian"
" Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dikenakan bila Ayah dikubur nanti."
Akhirnya sang ayah wafat. 
Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke ustadz agar almarhum diperkenankan memakai kaos kaki yang bolong itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi sang ustadz menolaknya.
" Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dikenakan kepada mayat."
Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak ustadz yang melarangnya
Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat…

Ibuku Seorang Penjual Gudeg

Namanya mbah Pon......
Penjual gudeg dipojokan pasar Beringharjo Jogja.

Mempunyai 5 anak yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI, mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa.

Siang itu mbah Pon duduk didepan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon.



Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada jawaban dari mbah Pon yang bisa memuaskan peserta. Misalkan, ketika ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, "nggih biasa mawon, nek nakal nggih dikandani"

Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon.. "Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar"

Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, karena tidak ada jawaban yang spesial dari mbah Pon.

Hingga seorang peserta bertanya, " mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah?"

Dengan wajah bingung mbah Pon balik bertanya, " masalah niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi?"

Peserta itu mencontohkan "Niku …

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Oleh Salim A. Fillah   
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
    memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
    memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
    kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al …