Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Renungan buat sahabat-sahabat terbaikku

Renungan buat sahabat-sahabat terbaik-ku.

Di dalam menganalisa suatu masalah lihatlah foto ini, nyata bukan!!?
Anda menemukan batu menggantung di udara.
Ini adalah satu foto, bukan dua foto dan tidak ada yang perlu dinaik-kan atau dipegang.
Mari perhatikan untuk mengetahui apa rahasianya, Coba balik-kan HP Anda, lalu perlihatkan gambar (batu) di atas tersebut, maka Anda akan menemukan jawaban yang sesungguhnya benar bahwa ternyata batu itu posisinya berada di tepi sungai, bukan menggantung di atas !!.😊

 Pelajaran berharga yang dapat dipetik : 👇

Di dalam kehidupan tidak ada yang tak mungkin, kadangkala kita seringkali melihat sesuatu masalah itu dari satu sisi sudut pandang saja, maka oleh karena itu hendaklah bilamana melihat sesuatu peristiwa mesti perlu di kaji, di telaah dari beberapa sudut pandang lain-nya,dan Anda akan menemukan  jawaban yang barang tentu berbeda apa yang di sangka-kan dari sebelumnya.

Renungan!!👇

"Sungguh luar biasa, orang cerdas dan bijak itu, jika mel…

Ibuku Seorang Penjual Gudeg

Namanya mbah Pon......
Penjual gudeg dipojokan pasar Beringharjo Jogja.

Mempunyai 5 anak yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI, mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa.

Siang itu mbah Pon duduk didepan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon.



Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada jawaban dari mbah Pon yang bisa memuaskan peserta. Misalkan, ketika ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, "nggih biasa mawon, nek nakal nggih dikandani"

Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon.. "Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar"

Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, karena tidak ada jawaban yang spesial dari mbah Pon.

Hingga seorang peserta bertanya, " mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah?"

Dengan wajah bingung mbah Pon balik bertanya, " masalah niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi?"

Peserta itu mencontohkan "Niku …

Jangan Jadikan Anakmu Sebagai Bahan Kompetisi

Turunkan standarmu, jangan jadikan anakmu sebagai bahan kompetisi, ya Bu.. Bismillaah. Sebelumnya sy menyadari bahwa ketika menulis ini sy bukan ahli parenting yg akan bikin kuliah online. Sy cuma new mom yg masih butuh banyak belajar. Beberapa tahun lalu ada teman curhat kpd sy tentang anaknya yg sudah usia sekian bulan tapi belum bisa ini dan itu.
Dia sedih dan hampir gila katanya.
Kenapa?
Dia terus dimarahi mertuanya karena anaknya yg selalu 'kalah' dengan cucu tetangga. Belum lagi saudara dan tetangganya yg suka komentar, "Eh anakmu kok usia segini belum bisa gini sih?"
"Lho harusnya usia segini udah bisa kaya gini lho" Sakit gak digitukan?


Dulu sy belum bisa merasakan apapun, sekarang, sy tau rasanya. Alhamdulillaah sy tidak mengalami (atau mengalami tapi tak separah) hal yg dialami teman sy. Bukan dia saja. Banyak teman sy yg mengalami demikian. Mom shaming namanya.
Lambat laun menjalar ke baby shaming. Sedih. Tiap ada curhatan teman yg mengalami demikian…

Orang Tua Sekarang Membunuh Anaknya Secara Halus

Ada seorang operations manager dari client kantor saya – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,
“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”
“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.
“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. But this, blew my mind.


Dan setelah saya menjadi orang tua, di sini lah saya lihat banyak orang tua mulai mengambil langkah yang tidak disadari, berdampak.

“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”

“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend to give the best.

The question is, is the best…is what our children need? Really?

Orang sukses…

Bercanda Kita

Ada hal-hal yang boleh dibercandakan, ada juga hal-hal yang tidak baik untuk dibercandakan. Benar adanya bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik, termasuk dalam hal bercanda. Ketika seseorang yang kita kenal nampak selalu easy going dalam perkara obrolan atau bercandaan apapun bukan berarti dia akan selalu baik-baik saja dengan kalimat-kalimat bercanda yang kita lontarkan. Bagaimanapun setiap manusia adalah manusia, memiliki hati. Akan ada masa dimana hatinya bisa saja terluka dengan kalimat-kalimat bercanda kita. Bisa membuatnya jadi patah semangat, menjadi lebih tidak percaya diri, dan hal-hal negatif lainnya dikarenakan kalimat yang keluar dari lisan kita, who knows? pun itu hanya berniat bercanda. Bercanda yang berkaitan dengan kekurangan fisik seseorang terutama, akan lebih baik jika dihindari. Orang-orang yang tipe “tidak enakan” mungkin akan bersikap seolah-olah easy going saja. Padahal bisa jadi hatinya terluka, hanya saja dia menyimpan untuk dirinya sendiri. Siapa yang t…