Langsung ke konten utama

Jangan Jadikan Anakmu Sebagai Bahan Kompetisi

Turunkan standarmu, jangan jadikan anakmu sebagai bahan kompetisi, ya Bu..
Bismillaah. Sebelumnya sy menyadari bahwa ketika menulis ini sy bukan ahli parenting yg akan bikin kuliah online. Sy cuma new mom yg masih butuh banyak belajar.
Beberapa tahun lalu ada teman curhat kpd sy tentang anaknya yg sudah usia sekian bulan tapi belum bisa ini dan itu.
Dia sedih dan hampir gila katanya.
Kenapa?
Dia terus dimarahi mertuanya karena anaknya yg selalu 'kalah' dengan cucu tetangga. Belum lagi saudara dan tetangganya yg suka komentar,
"Eh anakmu kok usia segini belum bisa gini sih?"
"Lho harusnya usia segini udah bisa kaya gini lho"
Sakit gak digitukan?



Dulu sy belum bisa merasakan apapun, sekarang, sy tau rasanya.
Alhamdulillaah sy tidak mengalami (atau mengalami tapi tak separah) hal yg dialami teman sy. Bukan dia saja. Banyak teman sy yg mengalami demikian.
Mom shaming namanya.
Lambat laun menjalar ke baby shaming.
Sedih. Tiap ada curhatan teman yg mengalami demikian, akhirnya beberapa ada yg kecewa sama anaknya, bahkan memaksa anaknya kudu bisa gini gitu hingga anaknya merasa tersiksa, terbebani, stres usia dini.
Bu Ibu.
Anak bukan ajang buat berkompetisi ya.
Anak itu amanah Allaah buat kita didik, kita jadikan manusia yg bermanfaat bagi ummat dan calon ahli syurga.
Jika tumbuh kembang mereka masih dalam tahap atau rentang waktu wajar, misal batas anak bisa bicara sampai sekian bulan, maka gak usah bingung kalau anak tetangga sudah bisa bicara dan akhirnya muncul komen jumawa "anakku lho sudah bisa bicara padahal masih sekian bulan, kok anakmu belum sih?". Lempar aja senyum trus makan lagi camilannya ya Bu 😂
Karena kalau kita memaksakan standar tinggi pada anak. Kudu naik 1kg tiap bulannya. Kudu bisa ngomong usia sekian bulan. Kudu rangking satu terus. Kudu jadi dokter. Kudu ini dan itu..gak hanya anak yg stres, panjenengan bisa juga jadi gila Bu 😂😂
Dan bagi yg suka komentar, tahan lisan itu mulia lho. Gak ada yg lebih membahagiakan orang lain daripada kata2 yg baik.
Sekali lagi. Sy bukan ahli parenting. Baru emak kemarin sore sih. Jadi bagi yg setuju monggo ambil baiknya yg enggak ya gapapa. Lewati aja tulisan ini 
😌

Sumber: Facebook atas nama Sofia Fitriani

Postingan populer dari blog ini

Kaos Kaki Bolong

Seorang ayah yg terkenal dan kaya raya  sedang sakit parah. 
Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2nya.
Beliau berwasiat:
"Anak-anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kepada kalian"
" Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dikenakan bila Ayah dikubur nanti."
Akhirnya sang ayah wafat. 
Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke ustadz agar almarhum diperkenankan memakai kaos kaki yang bolong itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi sang ustadz menolaknya.
" Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dikenakan kepada mayat."
Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak ustadz yang melarangnya
Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat…

Kisah Inspiratif : Lelaki Tua dan Selimut

Seorang lelaki tua dengan baju lusuhnya masuk ke sebuah toko megah. Dari bajunya, kelihatan kalau lelaki tua tersebut dari golongan fakir. Para pengunjung di toko tersebut (yg rata-rata borjuis) melihat aneh kepada lelaki tua itu. Tetapi tidak dengan pemilik toko.

Pemilik toko: ''Mau cari apa pak?'', tanyanya ramah.

Lelaki Tua: ''Anu.. Saya mau beli selimut 6 helai untuk saya dan anak istri saya. Tapi.. '', jawabnya ragu.

Pemilik toko: ''Tapi kenapa pak?''

Lelaki tua: ''Saya hanya punya uang 100 riyal. Apa cukup untuk membeli 6 helai selimut? Tak perlu bagus, yang penting bisa untuk melindungi tubuh dari hawa dingin'', ucapnya polos.

Pemilik toko: ''Oh cukup pak! Saya punya selimut bagus dari Turki. Harganya cuma 20 riyal saja. Kalau bapak membeli 5, saya kasih bonus 1 helai'', jawabnya sigap.

Lega, wajah lelaki tua itu bersinar cerah. Ia menyodorkan uang 100 riyal, lalu membawa selimut yang dibelinya pula…

Kisah Inspiratif : Rumah Si Tukang Bangunan

Alkisah Seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya
bekerja ikut pemborong.
.
Iapun bermaksud mengajukan pensiun
karena ingin memiliki banyak waktu
untuk keluarganya.
.
Si Pemborong berkata,
"Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu
satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.
.
Si tukang bangunan segera membangunnya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi.
.
Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat..
Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong.
.
Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata,
"Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
.
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal kenapa rumah, yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan..
.
Saudaraku..
Ibadah yang kita kerjakan
di dunia ini, tak lain adalah 'rumah' yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia.
.
Jangan sampai kelak kita menyesa…