Langsung ke konten utama

Penumpang Ojol yang Aneh

"pernah loh mas, saya kesel banget dapet pelanggan yang minta berhenti sebentar di tukang martabak..."
Si driver melanjutkan. Saat berhenti yang bilangnya sebentar, sampai lima belas menit dia menunggu, masih belum selesai. Pelanggannya cuma kasih kode tangannya "lima menit lagi".
Ternyata beli martabaknya nggak satu, pantesan lama. "sepanjang jalan saya ngegerundel aja, nyebelin banget pelanggan kayak gini"
Pas sampai di rumahnya, pelanggan menyodorkan sekotak martabak, "ini buat mas nya... Maaf ya nunggu lama tadi. Saya sengaja beli lebih buat mas nya"
Jleb... "saya langsung merasa bersalah udah kadung sebel dan kesel sama pelanggan, ternyata dia baik banget" si driver sampai berkaca matanya bercerita begini. Saya bayangkan bagaimana binar matanya saat si pelanggan kasih martabak yang sengaja dibeli buat dia.
Cerita driver ojol lainnya. Pernah juga dia kaget pas jemput ternyata penumpangnya dua orang, ibunya sama anak lelakinya yang sebenarnya sudah remaja. Harusnya bisa naik ojol sendiri. "yang kayak gini nih, pelanggan nggak mau rugi" pikirnya.
Yang ada, sepanjang jalan berasa pegel juga badan, karena duduk cuma diujung jok. Dua penumpang gede-gede. "untung aja nggak terlalu jauh"
Pas sampe lokasi pengantaran, si ibu tanya, "berapa tadi mas? Dua belas ribu ya? "
Si driver mengangguk. Hatinya menggerutu. Tapi belum berlanjut gerutunya, si ibu kasih uang dua puluh lima ribu. "sorry ya mas, ini saya bayar buat dua orang. Daripada saya pesan dua ojek, mending satu, tapi kan mas nya dapat dua bayaran..."
"ah saya jadi malu udah menggerutu" kata si driver.
Lain lagi kisah ojol yang mengantar go food malam hari. Pelanggannya pesan seafood tiga bungkus. "hampir jam sembilan malam, sebenarnya malas banget, mana jauh rumahnya".
Lantaran ia hari itu belum dapat banyak pelanggan. Tetap dijalani orderan itu.
Pesan seafood nggak bisa sebentar. Agak lama memang. Beberapa kali penumpang telepon "masih lama ya mas"
Akhirnya sampailah si driver ke rumah pelanggan. Pelanggan keluar rumah, lalu dia ambil satu bungkus dari tiga bungkus yang dipesan. "bawa aja yang dua mas, anak-anak saya sudah keburu tidur" sambil senyum.
"ya Allah rejeki... " kata si driver. Sore tadi isterinya yang lagi hamil kirim whatsapp katanya lagi ngidam kepengen banget makan seafood.
Saya tanya ke tiga driver tadi. Pelajaran menarik apa yang mereka dapatkan. Meski dengan bahasa berbeda, ketiganya sepakat meyakini bahwa kita harus yakin bahwa Allah selalu punya rencana terbaik. Juga mereka belajar untuk lebih banyak bersyukur.
Meski kadang ada juga pelanggan yang nyebelin (beneran nyebelin, katanya), tapi selalu ada yang bikin mereka tersenyum dan bersyukur.
Anda pasti nanya, keanehan apa yang Bang Gaw berikan buat driver ojol? "biar saya, si ojol dan Allah saja yang tahu"
@bayugawtama
Keterangan foto: nggak ada hubungannya sama ojol
Oya, gara2 bikin tulisan ini di commuterline, saya kelewat 5 stasiun... Ajigiblig....

Oleh Bayu Gawtama
https://web.facebook.com/gaw.gawtama


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaos Kaki Bolong

Seorang ayah yg terkenal dan kaya raya  sedang sakit parah. 
Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2nya.
Beliau berwasiat:
"Anak-anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kepada kalian"
" Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dikenakan bila Ayah dikubur nanti."
Akhirnya sang ayah wafat. 
Ketika mengurus jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke ustadz agar almarhum diperkenankan memakai kaos kaki yang bolong itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi sang ustadz menolaknya.
" Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dikenakan kepada mayat."
Maka terjadilah perdebatan antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak ustadz yang melarangnya
Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat…

Ibuku Seorang Penjual Gudeg

Namanya mbah Pon......
Penjual gudeg dipojokan pasar Beringharjo Jogja.

Mempunyai 5 anak yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI, mereka sekolah sampai jenjang kuliah tanpa beasiswa.

Siang itu mbah Pon duduk didepan para peserta seminar yang antusias ingin belajar kesuksesan dari mbah Pon.



Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada jawaban dari mbah Pon yang bisa memuaskan peserta. Misalkan, ketika ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, "nggih biasa mawon, nek nakal nggih dikandani"

Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon.. "Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar"

Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, karena tidak ada jawaban yang spesial dari mbah Pon.

Hingga seorang peserta bertanya, " mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah?"

Dengan wajah bingung mbah Pon balik bertanya, " masalah niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi?"

Peserta itu mencontohkan "Niku …

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Oleh Salim A. Fillah   
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
    memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
    memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
    kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al …